![]() |
| Image generate from ChatGPT |
Sebagai dosen dan praktisi Sistem Informasi, saya cukup sering berdiskusi dengan mahasiswa, founder startup, hingga pelaku UMKM digital. Hampir semua sepakat bahwa teknologi adalah kunci. Aplikasi sudah ada, sistem sudah jalan, data pun tersimpan rapi. Tapi ketika ditanya lebih jauh: “Data ini dipakai untuk apa?” jawabannya sering menggantung. Menurut saya, inilah tantangan nyata startup berbasis aplikasi di Indonesia hari ini: kita sudah digital, tapi belum sepenuhnya data-driven.
Di banyak startup, sistem informasi masih diposisikan sebatas alat operasional: mencatat transaksi, mengelola pengguna, dan membuat laporan rutin. Padahal, dalam konsep Sistem Informasi modern, perannya jauh lebih strategis. Management Information Systems menjelaskan bahwa sistem informasi seharusnya mendukung pengambilan keputusan manajerial dan strategis. Artinya, sistem tidak berhenti pada “apa yang terjadi”, tetapi membantu menjawab “mengapa” dan “apa yang seharusnya dilakukan”.
Saya sering melihat startup yang memiliki ribuan bahkan jutaan data pengguna, namun keputusan bisnisnya masih sangat intuitif. Fitur ditambah karena tren, promosi dijalankan karena kompetitor melakukan hal yang sama. Competing on Analytics sudah lama mengingatkan bahwa organisasi yang tidak menjadikan analitik sebagai bagian dari strategi bisnis akan sulit menjadikan data sebagai keunggulan kompetitif. Data yang tidak dianalisis pada akhirnya hanya menjadi arsip digital.
Kesalahan umum lainnya adalah menyamakan transformasi digital dengan sekadar adopsi teknologi baru. Padahal, transformasi sistem informasi menyentuh aspek yang lebih dalam: proses bisnis, struktur organisasi, dan budaya pengambilan keputusan.
Penelitian Digital Business Strategy dan Digital Transformation menegaskan bahwa teknologi hanya akan berdampak jika selaras dengan strategi dan perubahan organisasi. Tanpa perubahan cara berpikir, sistem secanggih apa pun tidak akan memberi nilai maksimal.
Dari sisi praktik, saya melihat banyak startup mencoba menjadi data-driven dengan cara trial and error. Sayangnya, pendekatan ini sering memakan waktu dan biaya. Leading Digital menunjukkan bahwa kegagalan transformasi digital sering terjadi karena tidak adanya kerangka yang jelas untuk menghubungkan sistem informasi, data, proses bisnis, dan model bisnis. Di sinilah framework transformasi sistem informasi menjadi penting: sebagai peta jalan agar startup tahu harus mulai dari mana dan bergerak ke arah mana.
Menurut saya, startup berbasis aplikasi di Indonesia punya potensi besar untuk benar-benar menjadi data-driven. Namun, itu hanya bisa dicapai jika sistem informasi dipahami sebagai aset strategis, bukan sekadar alat teknis.
Bagi praktisi, ini soal keberlanjutan bisnis. Bagi akademisi, ini adalah ruang riset dan kontribusi nyata ke dunia industri. Dan bagi kita semua di bidang Sistem Informasi, tantangannya jelas: menjembatani teori, teknologi, dan praktik agar data benar-benar menciptakan nilai.
