
Menulis artikel ilmiah yang menembus jurnal internasional bereputasi (Scopus) sering kali dirasa seperti mendaki gunung yang tinggi dengan penuh tantangan, membingungkan, dan tak jarang membuat kita ingin menyerah di tengah jalan. Namun, bagaimana jika proses menulis itu dilakukan dengan "beruzlah" di tepi pelabuhan, ditemani aroma laut, secangkir kopi legendaris, dan rimbunnya hutan bakau? Inilah kisah perjalanan saya selama sepekan mengikuti Retret Penulisan Artikel Ilmiah Bereputasi Internasional yang digagas oleh LPPM UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi di Kuala Tungkal, dari tanggal 28 Juli hingga 3 Agustus 2026.
Memulai Langkah: "Uzlah Akademik" di Kota Bersama
Perjalanan kami dimulai pada Selasa pagi, 28 Juli 2026. Di depan kantor Unit Pengembangan Bahasa Kampus Telanaipura, kami dilepas langsung oleh Rektor UIN STS Jambi, Prof. Dr. H. Kasful Anwar, M.Pd. Beliau membekali kami dengan sebuah pesan mendalam yang langsung membakar semangat: “Retret ini adalah sebuah bentuk uzlah, yakni mengasingkan diri untuk mematangkan kapasitas diri.”
Sebagai salah satu dari 20 peserta yang terdiri dari penulis utama dan penulis pendamping, saya merasakan tanggung jawab besar sekaligus antusiasme yang membuncah. Kami meninggalkan rutinitas harian di Jambi untuk menuju Hotel Ar-Riyadh, Kuala Tungkal, Tanjung Jabung Barat. Di sanalah laboratorium gagasan kami akan dibangun selama sepekan ke depan.
Hari-Hari Pertama: Menjinakkan Argumen dan Menata Struktur
Begitu tiba, tidak ada waktu untuk bersantai. Kami langsung dihadapkan pada kontrak kegiatan dan penjelasan manual program oleh Ketua LPPM, Dr. Fridiyanto, dan Korpuslit, Tasnim, M.H. Jadwal kami sangat padat: fokus penuh di depan laptop dari pukul 08.00 pagi hingga 22.00 malam! Pada sesi awal, kami dibimbing oleh M. Husnul Abid, M.A untuk melakukan brainstorming mengenai artikel ilmiah dan karakteristik jurnal bereputasi. Di sinilah "pertarungan nalar" dimulai. Kami diajak untuk merumuskan topik, memetakan penelitian terdahulu, dan yang paling penting: menemukan posisi akademik serta kebaruan (novelty) dari penelitian kami sendiri. Bagi saya pribadi, hari kedua retret memberikan sebuah momen Aha! yang luar biasa saat kami memperdalam penyusunan abstrak dan pendahuluan. Jujur saja, selama ini saya sering merasa bingung bagaimana memulai sebuah bagian pendahuluan yang kuat. Namun, melalui bimbingan yang sangat sistematis, kabut kebingungan itu perlahan sirna. Saya akhirnya memahami bahwa pendahuluan yang baik harus mengalir secara runtut: dimulai dari membangun konteks penelitian yang jelas, dilanjutkan dengan perumusan masalah, hingga akhirnya mengarah lurus pada argumen utama penelitian Rekan saya, Dion, juga merasakan hal serupa. Ia bercerita bagaimana ia kini bisa membedakan argumen ilmiah yang kokoh (yang didukung data dan teori) dengan sekadar opini biasa.
"Revisi, Revisi, Revisi" dan Kehangatan Warkop Haji Mael
Menulis artikel ilmiah ternyata bukan soal menulis cepat lalu selesai. Seperti yang ditekankan oleh instruktur kami, Agus Salim, Ph.D., pekerjaan utama setelah memperoleh data adalah mengorganisasikan seluruh temuan agar mampu menjawab pertanyaan penelitian secara logis. Beliau membekali kami dengan sebuah kalimat yang langsung terngiang-ngiang sepanjang malam: “Inti dalam menulis artikel adalah revisi, revisi, revisi.” Revisi bukanlah tanda kegagalan, melainkan jalan setapak menuju kualitas terbaik. Tentu saja, duduk berjam-jam menatap barisan data dan menimbang kata demi kata sangat menguras energi. Di sinilah Kuala Tungkal menyapa kami dengan kehangatannya. Di suatu pagi yang sejuk, setelah berjogging bersama untuk menjaga kebugaran fisik, kami singgah di Warung Kopi Haji Mael, sebuah warung kopi legendaris di kota ini. Ditemani secangkir kopi hitam pekat dan kudapan khas pesisir yang ditraktir langsung oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Dr. Ayub Mursalin suasana kebersamaan yang hangat begitu terasa. Di meja kayu sederhana warkop itu, batas antara pimpinan, instruktur, dan peserta melebur. Kami mengobrol santai tentang keluarga, tantangan akademik, hingga tips menghadapi komentar editor jurnal. Efek Kopi Mael ini bahkan terasa hingga larut malam, membuat layar-layar laptop kami tetap menyala di Hotel Ar-Riyadh ketika sebagian besar kota Kuala Tungkal telah tertidur lelap.
Jeda Sejenak: Berdamai dengan Pikiran di Pantai Mangrove
Ketika pikiran mulai jenuh dengan istilah metodologi, literatur, dan komentar instruktur, panitia mengajak kami keluar sejenak. Kami melangkah menuju Pantai Mangrove Kuala Tungkal. Di sana, dunia akademik seolah berhenti berputar sejenak. Tidak ada layar laptop, tidak ada daftar pustaka. Yang ada hanyalah angin laut yang berdesir lembut, langkah kaki kami di atas jembatan kayu yang membelah rimbunnya hutan bakau, dan pemandangan air pasang yang bergerak tenang. Berjalan di antara akar-akar bakau yang kuat mencengkeram tanah pesisir membuat kami rileks. Percakapan kami tidak lagi membahas research gap, melainkan obrolan santai yang mendekatkan hati kami satu sama lain. Seorang rekan sempat berseloroh, “Di kelas kami bertarung dengan teori. Di mangrove kami berdamai dengan pikiran.” Dan benar saja, sepulangnya dari Pantai Mangrove, pikiran kami kembali segar, siap berburu kebaruan ilmiah yang sempat tersembunyi.
Menutup Retret: Melahirkan Gagasan, Membawa Pulang Komitmen
Ketika hari terakhir retret tiba, sebuah pemandangan mengharukan terlihat di ruang pertemuan Hotel Ar-Riyadh. Layar laptop yang seminggu lalu dipenuhi halaman kosong kini telah terisi dengan naskah-naskah gagasan yang utuh. Sebanyak 20 draf artikel ilmiah berhasil diselesaikan! Isinya begitu kaya dan beragam, mulai dari kajian ekonomi syariah, Islamic fintech, hingga kearifan lokal Melayu Jambi yang siap diangkat ke panggung ilmu pengetahuan dunia. Bagi peserta senior seperti Ibu Dr. Idariyanti, retret ini telah membangkitkan kembali semangat menulisnya untuk terus menghasilkan karya ilmiah yang bermutu tanpa memandang usia. Bagi kami semua, kegiatan ini mengajarkan bahwa menulis bukan sekadar pemenuhan syarat administratif kenaikan jabatan akademik atau sekadar memburu gelar Guru Besar. Menulis, sebagaimana yang disampaikan oleh Wakil Rektor Dr. Ayub Mursalin pada malam penutupan, adalah sebuah kewajiban akademik fardhu 'ain bagi seorang dosen untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan membangun tradisi dialog ilmiah yang hidup.
Akhir Kata: Perjalanan Baru Saja Dimulai
Retret di Kuala Tungkal memang telah berakhir, tetapi langkah kami sesungguhnya baru saja dimulai. Draf kasar yang kami bawa pulang dari Ar-Riyadh masih harus melewati proses revisi lanjutan, pendampingan, hingga penilaian oleh para reviewer sebelum akhirnya submit dan terbit di jurnal bereputasi. Namun, di balik setiap baris tulisan yang kelak terbit, akan selalu ada jejak aroma khas Kuala Tungkal yang tak terhapuskan: kehangatan secangkir Kopi Mael, embusan angin Pantai Mangrove yang mengusir penat, tawa riang bersama rekan-rekan dosen, dan komitmen kuat untuk terus menulis demi kemajuan peradaban. Kini, saatnya kami kembali ke Jambi. Dan meskipun Kopi Mael harus digantikan dengan kopi lokal di rumah, pena kami tidak boleh berhenti menari. Karena sebuah artikel ilmiah menuntut satu hal penting: dituntaskan!
Catatan:
Artikel ini merupakan catatan refleksi pribadi. Beberapa data jadwal dan rincian kegiatan dirangkum dari publikasi/berita resmi
LPPM UIN STS Jambi.